Manusia dan cinta kasih
Cinta adalah rasa sangat suka atau
sayang (kepada) ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya.
Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta (kepada) atau sangat
menaruh belas kasihan. Dengan demikian cinta kasih dapat diatikan sebagai
perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas
kasihan.
Terdapat perbedaan antara cinta dan
kasih, cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam sedangkan
kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah kepada yang
dicintai. Cinta samasekali bukan nafsu. Perbedaan antara cinta dengan nafsu
adalah sebagai berikut:
- Cinta bersifat manusiawi
- Cinta bersifat rokhaniah sedangkan nafsu bersifat jasmaniah.
- Cinta menunjukkan perilaku memberi, sedangkan nafsu cenderung menuntut.
- Cinta rasa ingin mengasihi antar sesama
Cinta juga selalu menyatakan unsur - unsur dasar
tertentu yaitu:
- Pengasuhan, contohnya cinta seorang ibu kepada anaknya.
- Tanggung jawab, adalah tindakan yang benar – benar bedasarkan atas suka rela.
- Perhatian, merupakan suatu perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan pribadi orang lain, agar mau membuka dirinya.
- Pengenalan, merupakan keinginan untuk mengetahui rahasia manusia.
Cinta Menurut Ajaran Agama Islam
Cinta merupakan hal yang mendasar
dalam hidup ini, terkadang cinta membawa bahagia bagi manusia, dan dapat pula
berubah menjadi prahara. Cinta adalah instrumen untuk mencapai tujuan, pada
dasarnya cinta adalah netral, tetapi terpulang siapakah yang mengemudi cinta
itu sendiri, jiwa nafsu syahwat yang mendominasi maka wajarlah cinta itu akan
berakhir dengan kebinasaan, tetapi ketika cinta yang bertaburan dengan bunga
iman kepada Allah maka cinta adalah pengikat antara manusia dengan tuhannya,
sehingga akan menjadikan dia ikhlas beribadah. Dalam mendefinisikan cinta,
banyak dari para pemikir, mengkiaskan makna cinta dalam kata-katanya,
Al-Ashma’i berkata, saya pernah bertanya kepada seorang arab badui
tentang cinta. Dia menjawab, “cinta itu tersembunyi di dalam batu. Apabila
dinyalakan, ia akan tampak. Namun apabila dibiarkan, ia pun sembunyi di
dalamnya”. menurut ibnu Al-Qoyyim, orang-orang berakal sepakat mencela orang
yang mencintai sesuatu, yang membuat dirinya celaka karena kecintaanya itu.
Cinta adalah fitrah yang dianugerahkan Allah kepada para Mahklukya.
Lantas
bagaimana islam menyikapi emosi cinta yang selalu membawa kebahagiaan, namun
sering juga membawa malapetaka bagi pecinta maupun yang dicintainya, adakah
cinta yang sejati, dan bagaimana pula pengaruhnya terhadap manusia. masalah inilah yang saya akan paparkan dalam artikel ini.
Hadits
Tentang Hakikat Cinta
Memaknai cinta yang sebenarnya,
tentu kita harus mengambil dari sumber yang yang benar pula, yakni Al-Qur’an
dan Hadits, ada beberapa makna cinta dalam hadits (cinta kepada sesama,
cinta kepada lawan jenis, dan cinta kepada Allah) Berikut ini:
1. Cinta
kepada sesama
Di antara langkah syaitan dalam menggoda dan
menjerumuskan manusia adalah dengan memutuskan tali hubungan antara sesama umat
Islam. Ironinya, banyak umat Islam terpedaya mengikuti langkah langkah syaitan
itu. Mereka menghindar dan tidak menyapa saudaranya sesama muslim tanpa sebab
yang dibenarkan syara’. Misalnya karena percekcokan masalah harta atau karena
situasi buruk lainnya. Terkadang, putusnya hubungan tersebut langsung
terus hingga setahun. Bahkan ada yang sumpah untuk tidak mengajaknya bicara
selama-lamanya, atau bernadzar untuk tidak menginjak rumahnya. Jika secara
tidak sengaja berpapasan di jalan ia segera membuang muka. Jika bertemu di
suatu majlis ia hanya menyalami yang sebelum dan sesudahnya dan sengaja
melewatinya. Inilah salah satu sebab kelemahan dalam masyarakat Islam.
Karena itu, hukum syariat dalam masalah tersebut amat tegas dan ancamanya pun
sangat keras.
Abu Hurairah Radhiallahu’anhu berkata, Rasululloh Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda, yang artinya: “Tidak
halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim)
lebih dari tiga hari, barang siapa memutuskan lebih dari tiga hari dan
meninggal maka ia masuk neraka” (HR: Abu Dawud, 5/215, Shahihul
Jami’: 7635)
Abu khirasy Al Aslami Radhiallahu’anhu berkata, Rasululloh Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda, yang artinya: “Barangsiapa
memutus hubungan dengan saudaranya selama setahun maka ia seperti mengalirkan
darahnya (membunuhnya) “ (HR: Al Bukhari Dalam Adbul Mufrad no :
406, dalam Shahihul Jami’: 6557)
Untuk membuktikan betapa buruknya memutuskan hubungan antara
sesama muslim cukuplah dengan mengetahui bahwa Alloh menolak memberikan ampunan
kepada mereka. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam
bersabda, yang artinya: “semua
amal manusia diperlihatkan (kepada Allah) pada setiap Jum’at (setiap pekan) dua
kali; hari senin dan hari kamis. Maka setiap hamba yang beriman diampuni
(dosanya) kecuali hamba yang di antara dirinya dengan saudaranya ada
permusuhan. Difirmankan kepada malaikat :” tinggalkanlah atau tangguhkanlah
(pengampunan untuk) dua orang ini sehingga keduanya kembali berdamai” (HR:
Muslim: 4/1988)
Jika salah seorang dari keduanya bertaubat kepada
Alloh, ia harus bersilaturrahim kepada kawannya dan memberinya salam. Jika ia
telah melakukannya, tetapi sang kawan menolak maka ia telah lepas dari
tanggungan dosa, adapun kawannya yang menolak damai, maka dosa tetap ada
padanya.
Abu Ayyub Radhiallahu’anhu meriwayatkan,
Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Tidak halal bagi seorang laki-laki
memutuskan hubungan saudaranya lebih dari tiga malam. Saling berpapasan tapi
yang ini memalingkan muka dan yang itu (juga) membuang muka. Yang terbaik di
antara keduanya yaitu yang memulai salam” (HR: Bukhari, Fathul
Bari: 10/492)
Tetapi jika ada alasan yang dibenarkan, seperti karena
ia meninggalkan shalat, atau terus menerus melakukan maksiat sedang pemutusan
hubungan itu berguna bagi yang bersangkutan misalnya membuatnya kembali kepada
kebenaran atau membuatnya merasa bersalah maka pemutusan hubungan itu hukumnya
menjadi wajib. Tetapi jika tidak mengubah keadaan dan ia malah berpaling,
membangkang, menjauh, menantang, dan menambah dosa maka ia tidak boleh
memutuskan hubungan dengannya. Sebab perbuatan itu tidak membuahkan maslahat
tetapi malah mendatangkan madharat. Dalam keadaan seperti ini, sikap yang benar
adalah terus-menerus berbuat baik dengannya menasehati, dan mengingatkannya.
2.
Cinta Kepada lawan Jenis
Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan
lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan.
Pernikahan yang benar dalam Islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran,
tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui
pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan
pacaran yang cintanya hanya cinta bualan.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk
dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu
Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)
Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan
berpuasa. Rasulullah shallalahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu
lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang
belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan intim tanpa pernikahan
adalah haram dan merusak cinta, malah cinta di antara keduanya akan berakhir
dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, karena bila keduanya telah
merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan
lain yang belum diperolehnya.”
Cinta sejati akan ditemui dalam pernikahan yang
dilandasi oleh rasa cinta pada-Nya. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua
untuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Agama islam mengakui adanya cinta
terhadap lawan jenis sebagi iringan motivasi seksual, karena itu merupakan
emosi fitrah manusia, selama sesuai dengan cara yang telah disyariatkan, yaitu
menikah.
3.
Cinta Kepada Allah dan Rasul
Mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
sebenarnya adalah dengan meneladani petunjuk dan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan
berusaha mempelajari dan mengamalkannya dengan baik. Dan bukanlah mencintai dan
mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah dengan mengatasnamakan cinta kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau
memuji dan mensifati beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam secara berlebihan, dengan menempatkan
beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam melebihi kedudukan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tempatkan
beliau padanya.
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah kalian memuji diriku secara
berlebihan dan melampaui batas, sebagaimana orang-orang nasrani melampaui batas
dalam memuji (Nabi Isa) bin Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang
hamba Allah, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.“
Inilah makna cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
dipahami dan diamalkan oleh generasi terbaik umat ini, para sahabat radhiallahu ‘anhum. Anas bin
Malik radhiallahu ‘anhu berkata,
“Tidak ada seorangpun yang paling dicintai oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi
beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam, akan tetapi jika mereka melihat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka
tidak berdiri (untuk menghormati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena mereka mengetahui bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam membenci perbuatan tersebut. Hadits lainnya yang
mengungkapkan keutamaan cinta kepada Allah dan Rasu-Nya, adalah:
Rasulullah SAW bersabda, ”tiga
golongan yan akan merasakan manisnya iman yaitu: golongan yang mencintai Allah
dan Rasul-Nya lebih dari apapun, golongan yang tidak mencintai orang lain
melainkan hanya karena Allah, dan golongan yang tidak kembali kepada kekufuran
sebagaimana ia tidak ingin dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim, At-Tirmidzi, serta An-Nasa’i, dari Anas)
Nabi SAW menjelaskan bahwa ada tiga hal yang apabila
diamalkan oleh seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman. Manis disini
menunjukkan arti nikmat, senang, suka terhadap iman. Apabila seseorang merasa
nikmat terhadap sesuatu maka ia tidak akan rela apabila sesuatu itu lepas dan
hilang dari dirinya, apalagi kenikmatan itu adalah kenikmatan iman, suatu
anugerah terbesar yang seharusnya kita syukuri dan harus benar-benar
dipertahankan sampai akhir hayat kita. Jika kita berhasil mempertahankan iman
sampai ajal menjemput, maka demi Allah, surga telah menanti kita.
Makna
Cinta Dalam Perspektif Psikologi
Dari paparan diatas, mengenai
hadits tentang cinta, jika ditinjau dari sisi psikologis pada manusia dapat di
lihat manfaatnya sebagai berikut:
1. Cinta kepada
sesama. Manusia adalah makhluk sosial, mustahil rasanya jika manusia mampu
untuk hidup sendiri, manusia terlahir di dunia dengan segala kebatasan
pada kemampuannya, dan di anugerahi dengan segala kelebihannya. Dalam memenuhi
kebutuhan hidup, manusia harus berinteraksi dengan manusia lainnya dalam bentuk
sebuah masyarakat. Dalam hal ini, Cinta kepada sesama, merupakan hal yang
mendasar dalam mengatur interaksi seseorang dengan yang lainnya, dari faktor
cinta inilah timbulnya rasa kemanusiaan pada diri seseorang, ia dengan senang
hati untuk menolong orang lain hanya karena-Nya. Timbulnya rasa solidaritas
antar sesama manusia, sebenarnya berasal dari rasa cinta yang melahirkan empati
terhadap sesama.
2. Cinta kepada lawan jenis.
islam sebagai agama yang sempurna, memperhatikan juga aspek-aspek
duniawi dan sekaligus memberi solusinya. Dalam hal cinta kepada lawan jenis,
islam memandangnya sebagai fitrah, manusia dibekali rasa cinta kepada lawan
jenis untuk memotivasi memperbanyak keturunan, tetapi islam juga memberi
rambu-rambu atas cinta kepada lawan jenis ini, dengan solusinya adalah dengan
membangun keluarga dengan jalan menikah. Islam mengecam perzinaan, tetapi
sangat menganjurkan untuk menikah bagi yang mampu secara fisik dan psikis,
andaikata tidak atau belum mampu menikah, islam mengajurkan untuk berpuasa dan
menahan diri dari segala hal yang membangkitkan syahwat.
3. Cinta kepada
Allah dan Rasul-Nya
Menurut utsman najati, cinta kepada Allah
merupakan bentuk tertinggi dari rasa cinta yang ada pada diri manusia. Jika
kita mau melihat realita, banyak gangguan jiwa berawal dari rasa cinta yang
tinggi kepada hal-hal yang bersifat materi, misalnya rasa cinta kepada kekasih
(suami atau istri), cinta kepada harta, cinta kepada pekerjaan dan rasa cinta
yang semisalnya. Yang mengakibatkan seseorang terus memuaskan rasa cintanya
–yang pada hakikatnya tidak akan pernah terpuaskan— dengan berlebihan.
Pada akhirnya, hanya kekecewaan yang ia dapatkan karena cintanya itu bisa saja
bertepuk sebelah tangan ataupun cinta itu hanya semu dan nisbi. Jika kondisi
ini terus menerus terjadi dan ia terus terombang ambing dalam kesedihan yang
mendalam maka sederet gangguan jiwa menantinya.
Cinta kepada Allah yang di
refleksikan dalam rasa pengharapan yang tinggi kepada-Nya, menumbuhkan sikap
pasrah dan ridho kepadanya, semua yang terjadi terhadapnya akan dihadapi dengan
lapang dada, sehingga menimbulkan optimistis, rasa syukur atas nikmatnya,
karena semua yang terjadi padanya pasti ada hikmah yang cukup besar bagi
dirinya, hal inilah yang menjadikan seseorang, selalu dalam keadaan tenang dan
bahagia.
Kasih Sayang
Kasih sayang adalah
suatu sikap saling menghormati dan mengasihi semua ciptaan Tuhan baik mahluk
hidup maupun benda mati seperti menyayangi diri sendiri sendiri berlandaskan
hati nurani yang luhur. Kita sebagai warga negara yang baik sudah sepatutnya
untuk terus memupuk rasa kasih sayang terhadap orang lain tanpa membedakan
saudara , suku, ras, golongan, warna kulit, kedudukan sosial, jenis kelamin,
dan tua atau muda.
·
Kasih Sayang dalam Keluarga
Keluarga adalah sebagai
suatu kesatuan dan pergaulan yang paling awal. Sebagai satu kesatuan merupakan gabungan
dari beberapa orang yang ditandai oleh hubungan genelogis dan psikologis yang
saling ketergantungan dengan karakteristiknya yang berbeda. Jadi keluarga
menggambarkan ikatan atau hubungan di antara anggota keluarganya yang diikat
dengan berbagai sistem nilai.
Keluarga dalam bentuk
apapun pada hakekatnya merupakan persekutuan hidup, dalam kedudukan inilah
lahir berbagai fungsi keluarga. Keluarga merupakan bagian dari lingkungan kecil
yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang merupakan bagian dari masyarakat dan
bangsa, oleh karena itu kekuatan suatu negara bersumber pada kekuatan keluarga,
baik menyangkut kelancaran, keselamatan maupun kelangsungan hidup suatu
keluarga. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memelihara iklim
emosional keluarga adalah dengan adanya sikap kerjasama dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhan anggota keluarganya. kebutuhan-kebutuhan itu meliputi:
1.
Kebutuhan Akan Rasa Kasih Sayang
Kasih sayang adalah
faktor yang cukup penting dalam kehidupan anak, kasih sayang tidak akan
dirasakan oleh si anak apabila dalam kehidupannya mengalami hal-hal sebagai
berikut :Kehilangan pemeliharaan orang tuanya, Anak merasa tidak diperhatikan ,
dan kurang disayangi., Orang tua terlalu ambisius dan otoriter, Orang tua yang
mempunyai sikap yang berlawanan.
2.
Kebutuhan Akan Rasa Aman
Seorang anak merasa
diterima oleh orang tua apabila dia merasa bahwa kepentingannya diperhatikan
serta merasa bahwa ada hubungan yang erat antara si anak dengan keluarganya.
Anak yang merasa sungguh-sungguh dicintai oleh orang tua dan keluarganya pada
umumnya akan merasa bahagia dan aman.
3.
Kebutuhan Akan Harga Diri
Setiap anak ingin
merasa bahwa ia mempunyai tempat dalam keluarganya, dalam arti bahwa ia ingin
diperhatikan, ingin agar ibu dan bapaknya, dan anggota keluarga lainnya mau
mendengar dan tidak mengacuhkan apa yang dikatakannya.
4.
Kebutuhan Akan Rasa Kebebasan
Kebutuhan yang dimaksud
disini adalah kebebasan dalam batas-batas kewajaran. Pada umumnya anak
menginginkan kebebasan dari orang tuanya dalam hal melakukan berbagai aktifitas
dan memiliki teman bergaul.
5.
Kebutuhan Akan Rasa Sukses
Setiap anak ingin
merasa bahwa apa yang diharapkan dari padanya dapat dilakukan sesuai dengan
keinginan orang tuanya, karena rasa sukses yang dicapai pada waktu kecil akan
berpengaruh pada kehidupan kelak.
6.
Kebutuhan Akan Mengenal Lingkungan
Kebutuhan anak akan
mengenal lingkungannya merupakan salah satu faktor yang penting dalam
memberikan rasa bahwa ia memiliki potensi , orang tua harus memperhatikan hal
ini dalam mendidik anaknya.
·
Kasih Sayang dalam Kehidupan Bertetangga
Dalam kehidupan
masyarakat pemerintahan yang terkecil adalah rukun tetangga (RT) yang berperan
dimana orang-orang yang hidup disekitar wilayahnya tersebut berusaha untuk
membuat semacam keteraturan.
Kehidupan yang
dicita-citakan akan terlaksana apabila setiap komponen menyadari betapa
pentingnya kehidupan yang penuh keteraturan, dan berusaha menjalankan ketentuan
yang berlaku.
Nilai yang paling pokok
harus dimiliki oleh disetiap anggota oleh suatu kelompok masyarakat adalah
adanya rasa memiliki satu sama lainnya, rasa saling mencintai serta rasa saling
keterikatan akan menjadikan rasa sadar bahwa kehidupannya akan selalu saling
memperhatikan dan tepo seliro serta tidak akan mementingkan diri sendiri.
Organisasi
kemasyarakatan mempunyai corak yang bermacam-macam dalam mengembangkan segi
sosial dari kehidupan pemuda. Melalui organisasi pemuda berkembanglah kesadaran
nasional, kecakapan-kecakapan didalam pergaulan dengan sesama kawan dan sikap
yang tepat didalam hubungan antar manusia. Organisasi kewaspadaan seperti
Pramuka, PMR, Karang Taruna, dan sebagainya, dapat menumbuhkan sikap dan
prilaku kasih sayang sesama anggota.
Belas
Kasih
Belas kasih adalah kebajikan di mana
kapasitas emosional empati dan simpati untuk penderitaan orang lain dianggap
sebagai bagian dari cinta itu sendiri, dan landasan keterkaitan sosial yang
lebih besar dan humanisme-dasar ke tertinggi prinsi-prinsip dalam filsafat,
masyarakat, dan kepribadian .
Dalam surat Al –Qolam ayat
4,” maka manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena belas kasihan
adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat
dipujikan oleh Allah SWT.”
Perbuatan atau sifat menaruh belas
kasihan adalah orang yang berahlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas
kasihan. Masalahnya sanggupkah ia mengggugah potensi belas kasihannya itu. Bila
orang itu tergugah hatinya maka berarti orang berbudi dan terpujilah oleh Allah
SWT.
Pemujaan
Pada garis besarnya pengertian pemujaan mencakup dua aspek, yaitu antara
yang memuja dan yang dipuja. Dalam hal
puja memuja, dapat digolongkan menjadi beberapa bagian yakni:
1. Puja memuja antar sesama manusia
Pada hematnya manusia memuja manusia lainnya disebabkan oleh beberapa
faktor. Antara lain pemujaan yang berkaitan dengan perasaan jatuh cinta hingga
menyebabkan terjadi
perubahan
sikap, perilaku, tutur kata, dan hal-hal yang menimbulkan perubahan itu
sebagaimana layaknya jatuh cinta.
Di sisi lain, ungkapan perasaan jatuh cinta biasanya terlontar melalui
pengabdian pada pahatan, patung, ukiran puisi, lagu-lagu, salam sayang via
radam dan berbagai bentuk pernyataan tentang jatuh cinta yang semuanya
terhimpun di dalam lingkup pemujaan. Bahkan dengan kata pemujaan, Adolf Hitler
harus bersedia meneguk racun bersama sang pujaan Eva Braun menjelang akhir
pernag dunia II.
Sebagai pernyataan cinta yang sangat mendalam kepada sang pujaan yang telah
meninggal, maka diabadikan rasa kecintaan kepada istrinya dengan mendirikan Taj
Mahal di India termasuk salah satu dari tujuh keabadian dunia. Konon kabarnya
bangunan Taj Mahal dihiasi dengan ± 100.000 butir berlian.
Kisah romeo dan juliet juga merupakan bagian dari refleksi cinta yang
berjuang pada pemujaan. Pemujaan yang berkaitan dengan idola, dikagumi,
dipuja-puja, diagung-agungkan, menjadikan seseorang harus mempertaruhkan segala
sesuatu demi yang dipuja.
Hal demikian nampak pada bidang ideologi dan politik misalnya; antara lain
fanatisme rakyat Jepang terhadap Teno Haika (pasca perang dunia II). Musollini dengan fasisme yang sangat dipuja
oleh sebagian rakyat italia, Nazizme dengan Adolf Hitler sebagai gembongnya
sangat dipuja oleh para pengikutnya.
Di bidang seni, pemujaan terhadap seorang seniman pun tak kalah pentingnya.
Karena fanatisnya pengagum John Lenon (lagunya Imagine of the people’s), maka
tak segan-segan sipemuja harus menembak mati penyanyi tersebut. Elvis Preisley
sangat di kagumi dan di puja-puja oleh para pengikutnya. Walaupun telah lama meninggal,
namun rasa pemujaan terhadap dirinya tetap hidup melalui lagu-lagunya yang
pernah populer.
Di bidang kepemimpinan dan pemerintahan, tengoklah negara Libya dengan
Muammar (revolusi Iran) menjatuhkan kepemimpinan Reza Pahlevi, Mao Tse Tung di
RRC (berbaur dengan faham komunis), Ho Chin Min di Vietnam, Fideal Castro di
Cuba. Kesemuanya inilah keunggulan-keunggulan tipe kharismatik dalam
kepemimpinan dan pemerintahan, baik yang lebih di dominasi oleh faham,
ideologi, serta aliran juga yang dilandasi oleh keyakinan dalam kefanitikan
yang dogmatis.
Kesemuanya menyatu dalam suatu kerangka pengangguran yang bernuansa pada
pemujaan tanpa memperhitungkan batas waktu berakhirnya kejayaan yang dipuja.
2. Manusia memuja alam
Manusia memuja alam mengandung dua hal di dalamnya: pertama alam dipuja
oleh manusia dengan maksud agar alam bersikap ramah dan bersahabat. Alam
ditempatkan sebagai suatu bagian dengan diri manusia. Alam yang memiliki dua
kekuatan kesejaga dan (siang dan malam) juga memiliki empat potensi alamiah
(tanah, air, api, dan angin) eksistensinya dijabarkan kedalam satu metafora
simbolis yang terwakilkan di dalam diri manusia.
Agar alam dapat bersahabat, maka diperlakukan pemujaan oleh manusia melalui
perbuatan ritual. Kadar ritualnya senantiasa di tentukan oleh kesempurnaan
dalam satu cara pemujaan, lengkap dengan peralatan yang berfungsi sebagai
simbol. Setiap simbol selalu mewakili berbagai aspek dari aktifitas tingkah
laku manusia.
Dalam hal pemujaan terhadap alam, tidak hanya terbatas pada kalangan masyarakat sederhana, akan tetapi mencakup
seluruh kelompok manusia. Semboyan “back to nature” (kembali ke alam bebas)
merupakan suatu pernyataan kalangan masyarakat modern yang berusaha agar selalu
bersahabat dengan alam. Walaupun semboyan tersebut tidak langsung sebagai suatu
pemujaan kepada alam, namun dari segi pengagumannya sekelompok dari masyarakat
modern itu beralih kembali memilih hidup di gua-gua layaknya seperti manusia
purba.
Walaupun demikian alam tak pernah mengingkari janji setelah ditaklukkan,
dikurasi, dikuasai, digarap habis-habisan. Alam beraksi menjatuhkan sanksi
dengan berbagai bentuk (banjir, gunung meletus, tanah longsor, gempa) dan
tinggalah manusia meratapi nasibnya. Lahirlah ciptaan berupa hymne-hymne
didengarkan dalam tema antara pemujaan dan penyesalan silih berganti, namun
alam tetap berjaya di dalam kesejagadannya.
3. Manusia memuja benda
Pada hakekatnya benda (materi) sangat di butuhkan dalam kehidupan manusia,
sepanjang benda itu bukan merupakan tujuan akhir. Pemujaan manusia terhadap
benda secara berlebihan pasti akan mengundang kamelut. Karena benda beralih
fungsi dari peranannya sebagai alat perpaduan hidup berubah menjadi sesuatu
yang dipuja dan dipertuhan selama masih mampu untuk mengakumulirnya.
Daya pengakumulasi benda yang dipuja dan dipertuan sehingga melampaui batas
nilai harga diri dan keyakinan niscaya akan melahirkan konsepsi yang bermuara
pada:
a. Hilangnya
martabat dan hak azasi akibat penilaian terhadap manusia lainnya tidak lebih
dari seperangkat organ jasad yang dapat saja di campurkan bila tak berguna.
b. Munculnya perlakuan-perlakuan bercorak eksploitasi dan penindasan terhadap
sesama dengan landasannya tujuh menghalalkan segala cara. Dalam hal ini sosok
sesama manusia di anggap sebagai kelompok human yang sewaktu-waktu tak
berfungsi dapat di binasakan.
c. Dalam konteks sosialisasi interaksi sosial akan tumbuh kecemburuan dan
pertentangan kelas, persaingan pemutusan hubungan relasi-relasi sosial,
ketersaingan kecurigaan yang pada gilirannya berakhir dengan konflik.
Hal-hal yang disebutkan diatas hanya menyebutkan sebagian dari reaksi yang
timbul akibat sangat berlebihannya pemujaan terhadap benda. Terjerumuslah
manusia ke dalam kehidupan materialistik yang membentuk suatu faham yang
disebut materialisme.
Dari pengertian tentang materialisme (bukan pendapat sang guru besar
tersebut) jelaslah terdapat pertentangan yang sangat prinsipil. Dalam hal ini
keberadaan segala sesuatu termasuk manusia semuanya adalah materi, kejasmanian.
Apa yang disebut rohani, perasaan, kasih sayang, timbang rasa, harga diri,
keyakinan, agama, dan sebagainya oleh penganut, materialisme di anggap tidak
ada. Yang ada hanyalah materi atau benda.
Jika demikian halnya maka manusia berada pada ambang kehancuran, kehilangan
identitas diri, dan berakhir dengan tidak punya arti apa-apa. Yang tertinggal
hanyalah cara-cara pemuja benda, penganut materialisme yang tercatat dalam
sejarah peradaban manusia, tak segan-segan dan tak punya peri kemanusiaan
menghancurkan lawan-lawannya.
4. Manusia memuja dewa
Hal ini mtermasuk dalam lingkup keyakinan berkepercayaan (khususnya
agama-agama samawi). Namun demikian keyakinan berkepercayaan seperti itu tak
perlu diganggu gugat, bahkan sebaliknya harus di hargai karena keyakinan
berkepercyaan sebagaimana di maksud adalah milik orang lain.
Dikalangan masyarakat India pemujaan terhadap dewa dikaitkan dengan sistem
kasta, sehingga menyebabkan timbulnya strata sosial yang terbagi-bagi dalam
penggolongan. Untuk itu, perlu dipahami penggolongan kelompok masyarakat di
India berdasarkan sistem kasta, berbeda dengan sistem kelas-kelas dalam
masyarakat ciptaan Karl Marx.
Penggolongan yang dimaksud lebih di tekankan pada keyakinan penganut
terhadap salah satu dari tingkatan dewa yang terpilih untuk diyakini (brahmana,
wisnu, siwa, waisa dan sudra). Terbagi-bagilah masyarakat dalam kelompok yang
menempatkannya pada posisi sesuai tingkatan kedewaan untuk dipuja.
Masing-masing tingkat kedewaan memiliki ciri tersendiri sehingga mempengaruhi
tatanan kehidupan pada lingkup strata sosisal dalam hubungan kekerabatan.
Beberapa kelompok masyarakat tertentu diluar India, pemujaan terhadap
dewa-dewa selalu di hubungkan atau berhubungan dengan dunia roh. Walaupun
antara dewa dan roh kedua-duanya adalah abstrak, namun kepercayaan meyakini
keberdaannya tak dapat di pungkiri. Dalam konteks pemujaan, dewa-dewa dipuja
sekaligus di tempatkan pada posisi sebagai sumber ajaran-ajaran hidup untuk
selanjutnya di terima dan diyakini dalam bentuk agama.
Dunia roh dipuja lengkap dengan sesajen, mantra-mantra, persembahan
berskala ritualitas, untuk selanjutnya dipadukan dalam kehidupan dan diyakini
sebagai religi (kepercayaan). Dalam perjalanan hidup manusia, pemujaan terhadap
dewa-dewa dan dunia roh merupakan serangkaian tata perilaku yang berpola. Hal
demikian dimaksudkan sebagai perwujudan dari sistem pengaturan dalam cara
teknis pemujaan yang di kontrol oleh nilai di dalam norma-norma tertentu khusus
berkaitan dengan hal tersebut.
Itulah sebabnya terdapat perbedaan antara tata perikaku yang dikondisikan
dengan cara dan tekhnis pemujaan terhadap dewa-dewa dan dunia roh, dibanding
dengan aktifitas tingkah laku sehari-hari.
5. Manusia
memuja Tuhan Yang Maha Esa
Pemujaan
manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa pelaksanaannya berbeda-beda sesuai dengan
agama yang diyakini oleh setiap kelompok masyarakat. Dikalangan masyarakat yang
beragama islam khususnya, pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diatur
berdasarkan dengan syariat yang bersumber dari Al-Qur’an dan diperjelas teknis
serta cara pelaksanaannya melalui hadits Rasulullah. Bahkan dengan kekhususan
pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang harus dan semata-mata untuk dipuji
hanya Allah.
Dalam hal
pemujaan manusia kepada tuhan yang Maha Esa, pada hematnya mengalami pasang
surut. Hal ini dibuktikan oleh kebiasaan manusia yakni dia mengalami kesusahan
baru memuja Tuhan. Sebaiknya, bila dalam kesenangan, Tuhan dilupakan untuk
dipuja. Menelusuri jauh tentangg pemujaan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
ditempulah berbagai cara yang menghasilkan lahirnya sekte-sekte. Setiap sekte
mempunyai aturannya tersendiri dan biasanya membentuk organisasi keagamaan.
Sesuai dengan program yang digariskan oleh masing-masing sekte.
Sebagai
suatu fenomena bersifat sosio-religius pemujaan manusia terhadap Tuhan Yang
Maha Esa selalu berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan. Baik menyangkut
keselamatan, kebahagiaan, kesehatan, dijauhkan dari segala bencana, kemakmuran,
mampun yang berkenaan dengan rejeki, perluasan usaha, jodoh, ketentraman hidup,
termasuk mendapatkan anak pelanjut keturunan, dan sebagainya.
Refleksi
dari pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan tuntutan yang dihajatkan
seperti disebutkan perwujudannya dalam berbagai bentuk ritus keagamaan.
Bentuk-bentuk ritus yang beranekaragam itu berfungsi sebagai wahana dalam
menyampaikan segala yang dinginkan melalui pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan
demikian pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dikalangan masyarakat muslim
adalah melalui ibadah wajib maupun sunat. Selain itu, semua ibadah wajib maupun
sunat bukan merupakan perbuatan ritual. Misalnya, kegiatan ibadah seperti
shalat, shiam (puasa), zakat, haji/qurban. Seringkali terjadi kekeliruan yang
menganggap bahwa kegiatan-kegiatan ibadah tersebut dapat diartikan sebagai
perbuatan ritual. Untuk itu, perlu dijelaskan tentang perbuatan ritual yang
dilakukan oleh semua kelompok masyarakat.
Kata
“ritual” berasal dari “ritus, rite” yang artinya secara umum, yaitu upacara
peralihan, dilengkapi dengan beragam peralatan upacara (ceremonial equipment),
sesajen, mantera-mantera dan sebagainya. Dengan demikian jelaslah sudah, bahwa
di dalam syariat Islam pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ( dalam hal ini
adalah Allah ) melalui ibadah-ibadah baik yang diwajibkan maupun yang sunat,
tidak ada hubungannya dengan perbuatan ritual atau jelasnya adalah dengan
contoh yang sederhana saja, apakah mungkin ibadah shalat dilaksanakan,
dilengkapi dengan sesajen dan mantera-mantera ?
Sumber :
No comments:
Post a Comment