Tuesday, October 29, 2013

TUGAS 2 ILMU SOSIAL DASAR



Manusia dan cinta kasih
Cinta adalah rasa sangat suka atau sayang (kepada) ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta (kepada) atau sangat menaruh belas kasihan. Dengan demikian cinta kasih dapat diatikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.
Terdapat perbedaan antara cinta dan kasih, cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah kepada yang dicintai. Cinta samasekali bukan nafsu. Perbedaan antara cinta dengan nafsu adalah sebagai berikut:
  1. Cinta bersifat manusiawi
  2. Cinta bersifat rokhaniah sedangkan nafsu bersifat jasmaniah.
  3. Cinta menunjukkan perilaku memberi, sedangkan nafsu cenderung menuntut.
  4. Cinta rasa ingin mengasihi antar sesama
Cinta juga selalu menyatakan unsur - unsur dasar tertentu yaitu:
  1. Pengasuhan, contohnya cinta seorang ibu kepada anaknya.
  2. Tanggung jawab, adalah tindakan yang benar – benar bedasarkan atas suka rela.
  3. Perhatian, merupakan suatu perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan pribadi orang lain, agar mau membuka dirinya.
  4. Pengenalan, merupakan keinginan untuk mengetahui rahasia manusia.
Cinta Menurut Ajaran Agama Islam
Cinta merupakan hal yang mendasar dalam hidup ini, terkadang cinta membawa bahagia bagi manusia, dan dapat pula berubah menjadi prahara. Cinta adalah instrumen untuk mencapai tujuan, pada dasarnya cinta adalah netral, tetapi terpulang siapakah yang mengemudi cinta itu sendiri, jiwa nafsu syahwat yang mendominasi maka wajarlah cinta itu akan berakhir dengan kebinasaan, tetapi ketika cinta yang bertaburan dengan bunga iman kepada Allah maka cinta adalah pengikat antara manusia dengan tuhannya, sehingga akan menjadikan dia ikhlas beribadah. Dalam mendefinisikan cinta, banyak dari para pemikir, mengkiaskan makna cinta dalam kata-katanya, Al-Ashma’i  berkata, saya pernah bertanya kepada seorang arab badui tentang cinta. Dia menjawab, “cinta itu tersembunyi di dalam batu. Apabila dinyalakan, ia akan tampak. Namun apabila dibiarkan, ia pun sembunyi di dalamnya”. menurut ibnu Al-Qoyyim, orang-orang berakal sepakat mencela orang yang mencintai sesuatu, yang membuat dirinya celaka karena kecintaanya itu. Cinta adalah fitrah yang dianugerahkan Allah kepada para Mahklukya.
Lantas bagaimana islam menyikapi emosi cinta yang selalu membawa kebahagiaan, namun sering juga membawa malapetaka bagi pecinta maupun yang dicintainya, adakah cinta  yang sejati, dan bagaimana pula pengaruhnya terhadap manusia. masalah inilah yang saya akan  paparkan dalam artikel ini.

Hadits Tentang Hakikat Cinta
Memaknai cinta yang sebenarnya, tentu kita harus mengambil dari sumber yang yang benar pula, yakni Al-Qur’an dan Hadits, ada  beberapa makna cinta dalam hadits (cinta kepada sesama, cinta kepada lawan jenis, dan cinta kepada Allah) Berikut ini:
1. Cinta kepada sesama 
Di antara langkah syaitan dalam menggoda dan menjerumuskan manusia adalah dengan memutuskan tali hubungan antara sesama umat Islam. Ironinya, banyak umat Islam terpedaya mengikuti langkah langkah syaitan itu. Mereka menghindar dan tidak menyapa saudaranya sesama muslim tanpa sebab yang dibenarkan syara’. Misalnya karena percekcokan masalah harta atau karena situasi buruk lainnya.  Terkadang, putusnya hubungan tersebut langsung terus hingga setahun. Bahkan ada yang sumpah untuk tidak mengajaknya bicara selama-lamanya, atau bernadzar untuk tidak menginjak rumahnya. Jika secara tidak sengaja berpapasan di jalan ia segera membuang muka. Jika bertemu di suatu majlis ia hanya menyalami yang sebelum dan sesudahnya dan sengaja melewatinya. Inilah salah satu sebab  kelemahan dalam masyarakat Islam. Karena itu, hukum syariat dalam masalah tersebut amat tegas dan ancamanya pun sangat keras.
Abu Hurairah Radhiallahu’anhu berkata, Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Tidak halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari, barang siapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal maka ia masuk neraka”  (HR: Abu Dawud, 5/215, Shahihul Jami’: 7635)
Abu khirasy Al Aslami Radhiallahu’anhu berkata, Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Barangsiapa memutus hubungan dengan saudaranya selama setahun maka ia seperti mengalirkan darahnya (membunuhnya) “ (HR: Al Bukhari Dalam Adbul Mufrad no : 406, dalam Shahihul Jami’: 6557)
Untuk membuktikan betapa buruknya memutuskan hubungan antara sesama muslim cukuplah dengan mengetahui bahwa Alloh menolak memberikan ampunan kepada mereka. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “semua amal manusia diperlihatkan (kepada Allah) pada setiap Jum’at (setiap pekan) dua kali; hari senin dan hari kamis. Maka setiap hamba yang beriman diampuni (dosanya) kecuali hamba yang di antara dirinya dengan saudaranya ada permusuhan. Difirmankan kepada malaikat :” tinggalkanlah atau tangguhkanlah (pengampunan untuk) dua orang ini sehingga keduanya kembali berdamai” (HR: Muslim: 4/1988)
Jika salah seorang dari keduanya bertaubat kepada Alloh, ia harus bersilaturrahim kepada kawannya dan memberinya salam. Jika ia telah melakukannya, tetapi sang kawan menolak maka ia telah lepas dari tanggungan dosa, adapun kawannya yang menolak damai, maka dosa tetap ada padanya.
Abu Ayyub Radhiallahu’anhu meriwayatkan, Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Tidak halal bagi seorang laki-laki memutuskan hubungan saudaranya lebih dari tiga malam. Saling berpapasan tapi yang ini memalingkan muka dan yang itu (juga) membuang muka. Yang terbaik di antara keduanya yaitu yang memulai salam” (HR: Bukhari, Fathul Bari: 10/492)
Tetapi jika ada alasan yang dibenarkan, seperti karena ia meninggalkan shalat, atau terus menerus melakukan maksiat sedang pemutusan hubungan itu berguna bagi yang bersangkutan misalnya membuatnya kembali kepada kebenaran atau membuatnya merasa bersalah maka pemutusan hubungan itu hukumnya menjadi wajib. Tetapi jika tidak mengubah keadaan dan ia malah berpaling, membangkang, menjauh, menantang, dan menambah dosa maka ia tidak boleh memutuskan hubungan dengannya. Sebab perbuatan itu tidak membuahkan maslahat tetapi malah mendatangkan madharat. Dalam keadaan seperti ini, sikap yang benar adalah terus-menerus berbuat baik dengannya menasehati, dan mengingatkannya.

2. Cinta Kepada lawan Jenis
Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam Islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)
Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta, malah cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, karena bila keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan lain yang belum diperolehnya.”
Cinta sejati akan ditemui dalam pernikahan yang dilandasi oleh rasa cinta pada-Nya. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua untuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Agama islam mengakui adanya cinta terhadap lawan jenis sebagi iringan motivasi seksual, karena itu merupakan emosi fitrah manusia, selama sesuai dengan cara yang telah disyariatkan, yaitu menikah.

3. Cinta Kepada Allah dan Rasul
Mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah dengan meneladani petunjuk dan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan berusaha mempelajari dan mengamalkannya dengan baik. Dan bukanlah mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah dengan mengatasnamakan cinta kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau memuji dan mensifati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berlebihan, dengan menempatkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kedudukan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tempatkan beliau padanya.
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memuji diriku secara berlebihan dan melampaui batas, sebagaimana orang-orang nasrani melampaui batas dalam memuji (Nabi Isa) bin Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.
Inilah makna cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dipahami dan diamalkan oleh generasi terbaik umat ini, para sahabat radhiallahu ‘anhum. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidak ada seorangpun yang paling dicintai oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi jika mereka melihat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak berdiri (untuk menghormati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci perbuatan tersebut. Hadits lainnya yang mengungkapkan keutamaan cinta kepada Allah dan Rasu-Nya, adalah:
Rasulullah SAW bersabda, ”tiga golongan yan akan merasakan manisnya iman yaitu: golongan yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari apapun, golongan yang tidak mencintai orang lain melainkan hanya karena Allah, dan golongan yang tidak kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak ingin dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim, At-Tirmidzi, serta An-Nasa’i, dari Anas)
Nabi SAW menjelaskan bahwa ada tiga hal yang apabila diamalkan oleh seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman. Manis disini menunjukkan arti nikmat, senang, suka terhadap iman. Apabila seseorang merasa nikmat terhadap sesuatu maka ia tidak akan rela apabila sesuatu itu lepas dan hilang dari dirinya, apalagi kenikmatan itu adalah kenikmatan iman, suatu anugerah terbesar yang seharusnya kita syukuri dan harus benar-benar dipertahankan sampai akhir hayat kita. Jika kita berhasil mempertahankan iman sampai ajal menjemput, maka demi Allah, surga telah menanti kita. 

Makna Cinta Dalam Perspektif Psikologi
Dari paparan diatas, mengenai hadits tentang cinta, jika ditinjau dari sisi psikologis pada manusia dapat di lihat manfaatnya sebagai berikut:
1.  Cinta kepada sesama. Manusia adalah makhluk sosial, mustahil rasanya jika manusia mampu untuk hidup  sendiri, manusia terlahir di dunia dengan segala kebatasan pada kemampuannya, dan di anugerahi dengan segala kelebihannya. Dalam memenuhi kebutuhan hidup, manusia harus berinteraksi dengan manusia lainnya dalam bentuk sebuah masyarakat. Dalam hal ini, Cinta kepada sesama, merupakan hal yang mendasar dalam mengatur interaksi seseorang dengan yang lainnya, dari faktor cinta inilah timbulnya rasa kemanusiaan pada diri seseorang, ia dengan senang hati untuk menolong orang lain hanya karena-Nya. Timbulnya rasa solidaritas antar sesama manusia, sebenarnya berasal dari rasa cinta yang melahirkan empati terhadap sesama.
2. Cinta kepada lawan jenis. islam sebagai agama yang sempurna,  memperhatikan juga aspek-aspek  duniawi dan sekaligus memberi solusinya. Dalam hal cinta kepada lawan jenis, islam memandangnya sebagai fitrah, manusia dibekali rasa cinta kepada lawan jenis untuk memotivasi memperbanyak keturunan, tetapi islam juga memberi rambu-rambu atas cinta kepada lawan jenis ini, dengan solusinya adalah dengan membangun keluarga dengan jalan menikah.  Islam mengecam perzinaan, tetapi sangat menganjurkan untuk menikah bagi yang mampu secara fisik dan psikis, andaikata tidak atau belum mampu menikah, islam mengajurkan untuk berpuasa dan menahan diri dari segala hal yang membangkitkan syahwat.
3. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
Menurut utsman najati,  cinta kepada Allah merupakan bentuk tertinggi dari rasa cinta yang ada pada diri manusia. Jika kita mau melihat realita, banyak gangguan jiwa berawal dari rasa cinta yang tinggi kepada hal-hal yang bersifat materi, misalnya rasa cinta kepada kekasih (suami atau istri), cinta kepada harta, cinta kepada pekerjaan dan rasa cinta yang semisalnya. Yang mengakibatkan seseorang terus memuaskan rasa cintanya –yang pada hakikatnya tidak akan pernah terpuaskan—  dengan berlebihan. Pada akhirnya, hanya kekecewaan yang ia dapatkan karena cintanya itu bisa saja bertepuk sebelah tangan ataupun cinta itu hanya semu dan nisbi. Jika kondisi ini terus menerus terjadi dan ia terus terombang ambing dalam kesedihan yang mendalam maka sederet gangguan jiwa menantinya.
Cinta kepada Allah yang di refleksikan dalam rasa pengharapan yang tinggi kepada-Nya, menumbuhkan sikap pasrah dan ridho kepadanya, semua yang terjadi terhadapnya akan dihadapi dengan lapang dada, sehingga menimbulkan optimistis, rasa syukur atas nikmatnya, karena semua yang terjadi padanya pasti ada hikmah  yang cukup besar bagi dirinya, hal inilah yang menjadikan seseorang, selalu dalam keadaan tenang dan bahagia.

Kasih Sayang
Kasih sayang adalah suatu sikap saling menghormati dan mengasihi semua ciptaan Tuhan baik mahluk hidup maupun benda mati seperti menyayangi diri sendiri sendiri berlandaskan hati nurani yang luhur. Kita sebagai warga negara yang baik sudah sepatutnya untuk terus memupuk rasa kasih sayang terhadap orang lain tanpa membedakan saudara , suku, ras, golongan, warna kulit, kedudukan sosial, jenis kelamin, dan tua atau muda.
·         Kasih Sayang dalam Keluarga
Keluarga adalah sebagai suatu kesatuan dan pergaulan yang paling awal. Sebagai satu kesatuan merupakan gabungan dari beberapa orang yang ditandai oleh hubungan genelogis dan psikologis yang saling ketergantungan dengan karakteristiknya yang berbeda. Jadi keluarga menggambarkan ikatan atau hubungan di antara anggota keluarganya yang diikat dengan berbagai sistem nilai.
Keluarga dalam bentuk apapun pada hakekatnya merupakan persekutuan hidup, dalam kedudukan inilah lahir berbagai fungsi keluarga. Keluarga merupakan bagian dari lingkungan kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang merupakan bagian dari masyarakat dan bangsa, oleh karena itu kekuatan suatu negara bersumber pada kekuatan keluarga, baik menyangkut kelancaran, keselamatan maupun kelangsungan hidup suatu keluarga. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memelihara iklim emosional keluarga adalah dengan adanya sikap kerjasama dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan anggota keluarganya. kebutuhan-kebutuhan itu meliputi:
1.      Kebutuhan Akan Rasa Kasih Sayang
Kasih sayang adalah faktor yang cukup penting dalam kehidupan anak, kasih sayang tidak akan dirasakan oleh si anak apabila dalam kehidupannya mengalami hal-hal sebagai berikut :Kehilangan pemeliharaan orang tuanya, Anak merasa tidak diperhatikan , dan kurang disayangi., Orang tua terlalu ambisius dan otoriter, Orang tua yang mempunyai sikap yang berlawanan.
2.      Kebutuhan Akan Rasa Aman
Seorang anak merasa diterima oleh orang tua apabila dia merasa bahwa kepentingannya diperhatikan serta merasa bahwa ada hubungan yang erat antara si anak dengan keluarganya. Anak yang merasa sungguh-sungguh dicintai oleh orang tua dan keluarganya pada umumnya akan merasa bahagia dan aman.
3.      Kebutuhan Akan Harga Diri
Setiap anak ingin merasa bahwa ia mempunyai tempat dalam keluarganya, dalam arti bahwa ia ingin diperhatikan, ingin agar ibu dan bapaknya, dan anggota keluarga lainnya mau mendengar dan tidak mengacuhkan apa yang dikatakannya.
4.      Kebutuhan Akan Rasa Kebebasan
Kebutuhan yang dimaksud disini adalah kebebasan dalam batas-batas kewajaran. Pada umumnya anak menginginkan kebebasan dari orang tuanya dalam hal melakukan berbagai aktifitas dan memiliki teman bergaul.
5.      Kebutuhan Akan Rasa Sukses
Setiap anak ingin merasa bahwa apa yang diharapkan dari padanya dapat dilakukan sesuai dengan keinginan orang tuanya, karena rasa sukses yang dicapai pada waktu kecil akan berpengaruh pada kehidupan kelak.
6.      Kebutuhan Akan Mengenal Lingkungan
Kebutuhan anak akan mengenal lingkungannya merupakan salah satu faktor yang penting dalam memberikan rasa bahwa ia memiliki potensi , orang tua harus memperhatikan hal ini dalam mendidik anaknya.
·         Kasih Sayang dalam Kehidupan Bertetangga
Dalam kehidupan masyarakat pemerintahan yang terkecil adalah rukun tetangga (RT) yang berperan dimana orang-orang yang hidup disekitar wilayahnya tersebut berusaha untuk membuat semacam keteraturan.
Kehidupan yang dicita-citakan akan terlaksana apabila setiap komponen menyadari betapa pentingnya kehidupan yang penuh keteraturan, dan berusaha menjalankan ketentuan yang berlaku.
Nilai yang paling pokok harus dimiliki oleh disetiap anggota oleh suatu kelompok masyarakat adalah adanya rasa memiliki satu sama lainnya, rasa saling mencintai serta rasa saling keterikatan akan menjadikan rasa sadar bahwa kehidupannya akan selalu saling memperhatikan dan tepo seliro serta tidak akan mementingkan diri sendiri.
Organisasi kemasyarakatan mempunyai corak yang bermacam-macam dalam mengembangkan segi sosial dari kehidupan pemuda. Melalui organisasi pemuda berkembanglah kesadaran nasional, kecakapan-kecakapan didalam pergaulan dengan sesama kawan dan sikap yang tepat didalam hubungan antar manusia. Organisasi kewaspadaan seperti Pramuka, PMR, Karang Taruna, dan sebagainya, dapat menumbuhkan sikap dan prilaku kasih sayang sesama anggota.
Belas Kasih
Belas kasih adalah kebajikan di mana kapasitas emosional empati dan simpati untuk penderitaan orang lain dianggap sebagai bagian dari cinta itu sendiri, dan landasan keterkaitan sosial yang lebih besar dan humanisme-dasar ke tertinggi prinsi-prinsip dalam filsafat, masyarakat, dan kepribadian .
Dalam surat Al –Qolam ayat 4,” maka manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena belas kasihan adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat dipujikan oleh Allah SWT.”
Perbuatan atau sifat menaruh belas kasihan adalah orang yang berahlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan. Masalahnya sanggupkah ia mengggugah potensi belas kasihannya itu. Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.

Pemujaan

Pada garis besarnya pengertian pemujaan mencakup dua aspek, yaitu antara yang memuja dan yang dipuja. Dalam  hal puja memuja, dapat digolongkan menjadi beberapa bagian yakni:
1.    Puja memuja antar sesama manusia
Pada hematnya manusia memuja manusia lainnya disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain pemujaan yang berkaitan dengan perasaan jatuh cinta hingga menyebabkan terjadi
perubahan sikap, perilaku, tutur kata, dan hal-hal yang menimbulkan perubahan itu sebagaimana layaknya jatuh cinta.
Di sisi lain, ungkapan perasaan jatuh cinta biasanya terlontar melalui pengabdian pada pahatan, patung, ukiran puisi, lagu-lagu, salam sayang via radam dan berbagai bentuk pernyataan tentang jatuh cinta yang semuanya terhimpun di dalam lingkup pemujaan. Bahkan dengan kata pemujaan, Adolf Hitler harus bersedia meneguk racun bersama sang pujaan Eva Braun menjelang akhir pernag dunia II.
Sebagai pernyataan cinta yang sangat mendalam kepada sang pujaan yang telah meninggal, maka diabadikan rasa kecintaan kepada istrinya dengan mendirikan Taj Mahal di India termasuk salah satu dari tujuh keabadian dunia. Konon kabarnya bangunan Taj Mahal dihiasi dengan ± 100.000 butir berlian.
Kisah romeo dan juliet juga merupakan bagian dari refleksi cinta yang berjuang pada pemujaan. Pemujaan yang berkaitan dengan idola, dikagumi, dipuja-puja, diagung-agungkan, menjadikan seseorang harus mempertaruhkan segala sesuatu demi yang dipuja.
Hal demikian nampak pada bidang ideologi dan politik misalnya; antara lain fanatisme rakyat Jepang terhadap Teno Haika (pasca perang dunia II).  Musollini dengan fasisme yang sangat dipuja oleh sebagian rakyat italia, Nazizme dengan Adolf Hitler sebagai gembongnya sangat dipuja oleh para pengikutnya.
Di bidang seni, pemujaan terhadap seorang seniman pun tak kalah pentingnya. Karena fanatisnya pengagum John Lenon (lagunya Imagine of the people’s), maka tak segan-segan sipemuja harus menembak mati penyanyi tersebut. Elvis Preisley sangat di kagumi dan di puja-puja oleh para pengikutnya. Walaupun telah lama meninggal, namun rasa pemujaan terhadap dirinya tetap hidup melalui lagu-lagunya yang pernah populer.
Di bidang kepemimpinan dan pemerintahan, tengoklah negara Libya dengan Muammar (revolusi Iran) menjatuhkan kepemimpinan Reza Pahlevi, Mao Tse Tung di RRC (berbaur dengan faham komunis), Ho Chin Min di Vietnam, Fideal Castro di Cuba. Kesemuanya inilah keunggulan-keunggulan tipe kharismatik dalam kepemimpinan dan pemerintahan, baik yang lebih di dominasi oleh faham, ideologi, serta aliran juga yang dilandasi oleh keyakinan dalam kefanitikan yang dogmatis.
Kesemuanya menyatu dalam suatu kerangka pengangguran yang bernuansa pada pemujaan tanpa memperhitungkan batas waktu berakhirnya kejayaan yang dipuja.

2.    Manusia memuja alam
Manusia memuja alam mengandung dua hal di dalamnya: pertama alam dipuja oleh manusia dengan maksud agar alam bersikap ramah dan bersahabat. Alam ditempatkan sebagai suatu bagian dengan diri manusia. Alam yang memiliki dua kekuatan kesejaga dan (siang dan malam) juga memiliki empat potensi alamiah (tanah, air, api, dan angin) eksistensinya dijabarkan kedalam satu metafora simbolis yang terwakilkan di dalam diri manusia.
Agar alam dapat bersahabat, maka diperlakukan pemujaan oleh manusia melalui perbuatan ritual. Kadar ritualnya senantiasa di tentukan oleh kesempurnaan dalam satu cara pemujaan, lengkap dengan peralatan yang berfungsi sebagai simbol. Setiap simbol selalu mewakili berbagai aspek dari aktifitas tingkah laku manusia.
Dalam hal pemujaan terhadap alam, tidak hanya terbatas pada kalangan  masyarakat sederhana, akan tetapi mencakup seluruh kelompok manusia. Semboyan “back to nature” (kembali ke alam bebas) merupakan suatu pernyataan kalangan masyarakat modern yang berusaha agar selalu bersahabat dengan alam. Walaupun semboyan tersebut tidak langsung sebagai suatu pemujaan kepada alam, namun dari segi pengagumannya sekelompok dari masyarakat modern itu beralih kembali memilih hidup di gua-gua layaknya seperti manusia purba.
Walaupun demikian alam tak pernah mengingkari janji setelah ditaklukkan, dikurasi, dikuasai, digarap habis-habisan. Alam beraksi menjatuhkan sanksi dengan berbagai bentuk (banjir, gunung meletus, tanah longsor, gempa) dan tinggalah manusia meratapi nasibnya. Lahirlah ciptaan berupa hymne-hymne didengarkan dalam tema antara pemujaan dan penyesalan silih berganti, namun alam tetap berjaya di dalam kesejagadannya.

3.    Manusia memuja benda
Pada hakekatnya benda (materi) sangat di butuhkan dalam kehidupan manusia, sepanjang benda itu bukan merupakan tujuan akhir. Pemujaan manusia terhadap benda secara berlebihan pasti akan mengundang kamelut. Karena benda beralih fungsi dari peranannya sebagai alat perpaduan hidup berubah menjadi sesuatu yang dipuja dan dipertuhan selama masih mampu untuk mengakumulirnya.
Daya pengakumulasi benda yang dipuja dan dipertuan sehingga melampaui batas nilai harga diri dan keyakinan niscaya akan melahirkan konsepsi yang bermuara pada:
a.    Hilangnya martabat dan hak azasi akibat penilaian terhadap manusia lainnya tidak lebih dari seperangkat organ jasad yang dapat saja di campurkan bila tak berguna.
b.    Munculnya perlakuan-perlakuan bercorak eksploitasi dan penindasan terhadap sesama dengan landasannya tujuh menghalalkan segala cara. Dalam hal ini sosok sesama manusia di anggap sebagai kelompok human yang sewaktu-waktu tak berfungsi dapat di binasakan.
c.    Dalam konteks sosialisasi interaksi sosial akan tumbuh kecemburuan dan pertentangan kelas, persaingan pemutusan hubungan relasi-relasi sosial, ketersaingan kecurigaan yang pada gilirannya berakhir dengan konflik. 
Hal-hal yang disebutkan diatas hanya menyebutkan sebagian dari reaksi yang timbul akibat sangat berlebihannya pemujaan terhadap benda. Terjerumuslah manusia ke dalam kehidupan materialistik yang membentuk suatu faham yang disebut materialisme.
Dari pengertian tentang materialisme (bukan pendapat sang guru besar tersebut) jelaslah terdapat pertentangan yang sangat prinsipil. Dalam hal ini keberadaan segala sesuatu termasuk manusia semuanya adalah materi, kejasmanian. Apa yang disebut rohani, perasaan, kasih sayang, timbang rasa, harga diri, keyakinan, agama, dan sebagainya oleh penganut, materialisme di anggap tidak ada. Yang ada hanyalah materi atau benda.
Jika demikian halnya maka manusia berada pada ambang kehancuran, kehilangan identitas diri, dan berakhir dengan tidak punya arti apa-apa. Yang tertinggal hanyalah cara-cara pemuja benda, penganut materialisme yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia, tak segan-segan dan tak punya peri kemanusiaan menghancurkan lawan-lawannya.

4.    Manusia memuja dewa
Hal ini mtermasuk dalam lingkup keyakinan berkepercayaan (khususnya agama-agama samawi). Namun demikian keyakinan berkepercayaan seperti itu tak perlu diganggu gugat, bahkan sebaliknya harus di hargai karena keyakinan berkepercyaan sebagaimana di maksud adalah milik orang lain.
Dikalangan masyarakat India pemujaan terhadap dewa dikaitkan dengan sistem kasta, sehingga menyebabkan timbulnya strata sosial yang terbagi-bagi dalam penggolongan. Untuk itu, perlu dipahami penggolongan kelompok masyarakat di India berdasarkan sistem kasta, berbeda dengan sistem kelas-kelas dalam masyarakat ciptaan Karl Marx.
Penggolongan yang dimaksud lebih di tekankan pada keyakinan penganut terhadap salah satu dari tingkatan dewa yang terpilih untuk diyakini (brahmana, wisnu, siwa, waisa dan sudra). Terbagi-bagilah masyarakat dalam kelompok yang menempatkannya pada posisi sesuai tingkatan kedewaan untuk dipuja. Masing-masing tingkat kedewaan memiliki ciri tersendiri sehingga mempengaruhi tatanan kehidupan pada lingkup strata sosisal dalam hubungan kekerabatan.
Beberapa kelompok masyarakat tertentu diluar India, pemujaan terhadap dewa-dewa selalu di hubungkan atau berhubungan dengan dunia roh. Walaupun antara dewa dan roh kedua-duanya adalah abstrak, namun kepercayaan meyakini keberdaannya tak dapat di pungkiri. Dalam konteks pemujaan, dewa-dewa dipuja sekaligus di tempatkan pada posisi sebagai sumber ajaran-ajaran hidup untuk selanjutnya di terima dan diyakini dalam bentuk agama.
Dunia roh dipuja lengkap dengan sesajen, mantra-mantra, persembahan berskala ritualitas, untuk selanjutnya dipadukan dalam kehidupan dan diyakini sebagai religi (kepercayaan). Dalam perjalanan hidup manusia, pemujaan terhadap dewa-dewa dan dunia roh merupakan serangkaian tata perilaku yang berpola. Hal demikian dimaksudkan sebagai perwujudan dari sistem pengaturan dalam cara teknis pemujaan yang di kontrol oleh nilai di dalam norma-norma tertentu khusus berkaitan dengan hal tersebut.
Itulah sebabnya terdapat perbedaan antara tata perikaku yang dikondisikan dengan cara dan tekhnis pemujaan terhadap dewa-dewa dan dunia roh, dibanding dengan aktifitas tingkah laku sehari-hari.

5.    Manusia memuja Tuhan Yang Maha Esa
Pemujaan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa pelaksanaannya berbeda-beda sesuai dengan agama yang diyakini oleh setiap kelompok masyarakat. Dikalangan masyarakat yang beragama islam khususnya, pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diatur berdasarkan dengan syariat yang bersumber dari Al-Qur’an dan diperjelas teknis serta cara pelaksanaannya melalui hadits Rasulullah. Bahkan dengan kekhususan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang harus dan semata-mata untuk dipuji hanya Allah.
Dalam hal pemujaan manusia kepada tuhan yang Maha Esa, pada hematnya mengalami pasang surut. Hal ini dibuktikan oleh kebiasaan manusia yakni dia mengalami kesusahan baru memuja Tuhan. Sebaiknya, bila dalam kesenangan, Tuhan dilupakan untuk dipuja. Menelusuri jauh tentangg pemujaan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, ditempulah berbagai cara yang menghasilkan lahirnya sekte-sekte. Setiap sekte mempunyai aturannya tersendiri dan biasanya membentuk organisasi keagamaan. Sesuai dengan program yang digariskan oleh masing-masing sekte.
Sebagai suatu fenomena bersifat sosio-religius pemujaan manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa selalu berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan. Baik menyangkut keselamatan, kebahagiaan, kesehatan, dijauhkan dari segala bencana, kemakmuran, mampun yang berkenaan dengan rejeki, perluasan usaha, jodoh, ketentraman hidup, termasuk mendapatkan anak pelanjut keturunan, dan sebagainya.
Refleksi dari pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan tuntutan yang dihajatkan seperti disebutkan perwujudannya dalam berbagai bentuk ritus keagamaan. Bentuk-bentuk ritus yang beranekaragam itu berfungsi sebagai wahana dalam menyampaikan segala yang dinginkan melalui pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan demikian pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dikalangan masyarakat muslim adalah melalui ibadah wajib maupun sunat. Selain itu, semua ibadah wajib maupun sunat bukan merupakan perbuatan ritual. Misalnya, kegiatan ibadah seperti shalat, shiam (puasa), zakat, haji/qurban. Seringkali terjadi kekeliruan yang menganggap bahwa kegiatan-kegiatan ibadah tersebut dapat diartikan sebagai perbuatan ritual. Untuk itu, perlu dijelaskan tentang perbuatan ritual yang dilakukan oleh semua kelompok masyarakat.
Kata “ritual” berasal dari “ritus, rite” yang artinya secara umum, yaitu upacara peralihan, dilengkapi dengan beragam peralatan upacara (ceremonial equipment), sesajen, mantera-mantera dan sebagainya. Dengan demikian jelaslah sudah, bahwa di dalam syariat Islam pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ( dalam hal ini adalah Allah ) melalui ibadah-ibadah baik yang diwajibkan maupun yang sunat, tidak ada hubungannya dengan perbuatan ritual atau jelasnya adalah dengan contoh yang sederhana saja, apakah mungkin ibadah shalat dilaksanakan, dilengkapi dengan sesajen dan mantera-mantera ?

Sumber :




No comments:

Post a Comment