Dalam penceritaan, Sokola
Rimba pun tidak
berbelit-belit dan cenderung sederhana. Ini adalah kisah dari Butet Manurung
(Prisia Nasution), seorang aktivis yang bekerja di lembaga konservasi alam,
dalam pengalamannya menjadi guru bagi Suku Anak Dalam yang tinggal di hulu
Sungai Makekal, Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Aktivitasnya dalam
mengajarkan baca tulis serta berhitung bagi anak-anak di hulu ini berhasil
menarik perhatian seorang anak dari suku hilir, Nyungsang Bungo. Dilandasi atas
dua alasan; berhutang budi kepada Bungo setelah Butet diselamatkan saat
terjangkit malaria dan tekad yang begitu kuat dari Bungo untuk belajar membaca,
Butet pun berencana untuk mengembangkan wilayah ajarnya. Hanya saja, niat baik
dari Butet tidak memeroleh restu dari sang atasan, Bahar (Rukman Rosadi), dan
kelompok rombongan Bungo yang menganggap ilmu pengetahuan yang dibawa oleh
Butet menyebarkan kutukan kepada mereka.
Peristiwa ini serta kesungguhan Bungo membuat Butet ingin meluaskan
pengajarannya. Tekatnya tak direstui atasan tempatnya bekerja di Lembaga
Konservasi, bahkan juga tidak oleh Orang Rimba yang meyakini alat tulis justru
akan menjadi Raja Penyakit (umpatan khas mereka), pembawa
malapetaka! Betapapun, Bungo tetap belajar demi bisa membaca dan tak terpedaya
surat perjanjian yang dibuat para pendatang terhadap tanah mereka!
Kecerdasan dan keteguhan hati Bungo membuat Butet mencari
segala cara agar bisa tetap mengajar Bungo. Sampai saat malapetaka yang
ditakuti oleh Kelompok Bungo betul-betul terjadi. Butet terpisahkan dari
masyarakat Rimba yang dicintainya.
Sosok Butet pun digambarkan layaknya perempuan kebanyakan –
selain semangatnya yang luar biasa dan kebaikan hatinya, tak ada istimewa
darinya. Ketidakberdayaan Butet dalam melawan sistem, lantas sedikit banyak
dimanfaatkan oleh si pembuat film untuk melayangkan nota protes kepada
pemerintah atas ketidakbecusan mereka dalam meratakan pendidikan dan melindungi
alam.
No comments:
Post a Comment