Tuesday, April 19, 2016

Review Film Sekolah Rimba


Dalam penceritaan, Sokola Rimba pun tidak berbelit-belit dan cenderung sederhana. Ini adalah kisah dari Butet Manurung (Prisia Nasution), seorang aktivis yang bekerja di lembaga konservasi alam, dalam pengalamannya menjadi guru bagi Suku Anak Dalam yang tinggal di hulu Sungai Makekal, Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Aktivitasnya dalam mengajarkan baca tulis serta berhitung bagi anak-anak di hulu ini berhasil menarik perhatian seorang anak dari suku hilir, Nyungsang Bungo. Dilandasi atas dua alasan; berhutang budi kepada Bungo setelah Butet diselamatkan saat terjangkit malaria dan tekad yang begitu kuat dari Bungo untuk belajar membaca, Butet pun berencana untuk mengembangkan wilayah ajarnya. Hanya saja, niat baik dari Butet tidak memeroleh restu dari sang atasan, Bahar (Rukman Rosadi), dan kelompok rombongan Bungo yang menganggap ilmu pengetahuan yang dibawa oleh Butet menyebarkan kutukan kepada mereka. 
Peristiwa ini serta kesungguhan Bungo membuat Butet ingin meluaskan pengajarannya. Tekatnya tak direstui atasan tempatnya bekerja di Lembaga Konservasi, bahkan juga tidak oleh Orang Rimba yang meyakini alat tulis justru akan menjadi Raja Penyakit (umpatan khas mereka), pembawa malapetaka! Betapapun, Bungo tetap belajar demi bisa membaca dan tak terpedaya surat perjanjian yang dibuat para pendatang terhadap tanah mereka!

Kecerdasan dan keteguhan hati Bungo membuat Butet mencari segala cara agar bisa tetap mengajar Bungo. Sampai saat malapetaka yang ditakuti oleh Kelompok Bungo betul-betul terjadi. Butet terpisahkan dari masyarakat Rimba yang dicintainya.
Sosok Butet pun digambarkan layaknya perempuan kebanyakan – selain semangatnya yang luar biasa dan kebaikan hatinya, tak ada istimewa darinya. Ketidakberdayaan Butet dalam melawan sistem, lantas sedikit banyak dimanfaatkan oleh si pembuat film untuk melayangkan nota protes kepada pemerintah atas ketidakbecusan mereka dalam meratakan pendidikan dan melindungi alam.

Susah payah dilakukannya demi mengajarkan baca-tulis dan berhitung pada anak-anak masyarakat suku Anak Dalam yang dikenal sebagai Orang Rimba penghuni hulu sungai Makekal di hutan Bukit Duabelas. Saking kelelahan suatu hari Butet tumbang, terkapar oleh demam malaria di tengah rimba. Seorang anak bernama Nyungsang Bungo menyelamatkannya, padahal ia berasal dari hilir sungai Makekal sejauh tujuh jam jalan kaki. Namun Bungo memang telah lama memperhatikan sang Bu Guru saat mengajar.

No comments:

Post a Comment